PADANG PARIAMAN — Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman terus memperkuat komitmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui kegiatan School Quality Improvement (SQI) Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2026 yang digelar di Hall IKK Parik Malintang, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya percepatan peningkatan mutu pendidikan, khususnya melalui penguatan kompetensi guru, inovasi pembelajaran, dan pengembangan sekolah yang berkualitas.
Kegiatan yang diinisiasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padang Pariaman tersebut menghadirkan pakar pendidikan dari dalam dan luar negeri untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta praktik terbaik dalam membangun ekosistem pendidikan yang mampu menjawab tantangan pembelajaran masa kini dan masa depan.
Sebanyak 200 peserta yang terdiri atas guru mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tingkat SMP se-Kabupaten Padang Pariaman mengikuti kegiatan ini secara serentak. Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengembangan pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM), pengembangan potensi anak, pemanfaatan teknologi, serta strategi menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Sumatera Barat, Sekretaris Daerah Kabupaten Padang Pariaman, staf ahli, asisten, kepala perangkat daerah, pengawas sekolah, serta pengurus Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP se-Kabupaten Padang Pariaman.
Sejumlah narasumber kompeten turut memberikan materi, di antaranya Prof. Elfindri, Tokoh Pendidikan Sumatera Barat Tahun 2024 dari Universitas Andalas; Kimble Nichols, pakar pendidikan dan pedagogi dari Australia; Sabrina Amira, pemegang sertifikat Harvard di bidang perkembangan anak dari Turki; M. Ihsan, MBA dari ITB; serta Dr. Dessy Aliandrina, spesialis senior UNESCO dan praktisi sosiopreneurship Indonesia yang dijadwalkan mengikuti sesi secara virtual dari Beijing.
Dalam arahannya, Bupati Padang Pariaman menegaskan bahwa peningkatan mutu sekolah harus dimaknai sebagai upaya menyeluruh untuk membangun ekosistem pendidikan yang mampu mendukung setiap anak agar belajar dan berkembang secara optimal.
Menurutnya, sekolah berkualitas tidak cukup hanya ditandai dengan bangunan yang baik, fasilitas yang memadai, atau tingginya nilai akademik peserta didik. Lebih dari itu, sekolah harus memiliki kepemimpinan yang kuat, guru yang kompeten dan berdedikasi, proses pembelajaran yang efektif, lingkungan yang aman dan inklusif, serta tata kelola yang transparan dan akuntabel.
Sekolah juga harus mampu menumbuhkan karakter, kedisiplinan, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, semangat gotong royong, serta nilai-nilai keagamaan dan budaya yang menjadi jati diri masyarakat Padang Pariaman.
Dalam konteks pemerataan pendidikan, Bupati menekankan pentingnya memastikan seluruh satuan pendidikan memperoleh kesempatan yang adil untuk berkembang, baik sekolah yang berada di pusat kecamatan maupun di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan.
“Jangan sampai kualitas pendidikan seorang anak ditentukan semata-mata oleh tempat ia dilahirkan atau lokasi sekolah tempat ia belajar. Kita ingin setiap anak di Kabupaten Padang Pariaman memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” tegasnya.
Bupati juga mengingatkan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak lagi cukup dijawab dengan pola pembelajaran konvensional. Guru dan sekolah harus mampu memastikan bahwa peserta didik tidak sekadar hadir di kelas dan menerima materi, tetapi benar-benar memahami apa yang dipelajari, mampu berpikir kritis, kreatif, berkomunikasi, berkolaborasi, serta memiliki karakter yang kuat.
Karena itu, peningkatan mutu pendidikan perlu dimulai dari perubahan cara sekolah dikelola dan cara guru melaksanakan pembelajaran. Pendekatan STEAM menjadi salah satu strategi yang dapat dikembangkan untuk mendorong peserta didik belajar melalui eksplorasi, percobaan, kreativitas, pemecahan masalah, dan keterkaitan antara ilmu pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, pemanfaatan teknologi harus tetap ditempatkan sebagai sarana pendukung pembelajaran, bukan pengganti peran guru. Guru tetap menjadi pendidik yang membimbing, menginspirasi, dan membentuk karakter peserta didik.
Bupati selanjutnya menyampaikan tiga arahan penting dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Pertama, menjadikan sekolah sebagai tempat tumbuhnya potensi setiap anak, sehingga setiap peserta didik merasa aman, memperoleh kesempatan belajar yang setara, dan mampu mengembangkan bakat serta kemampuan terbaiknya.
Kedua, mengubah pembelajaran dari sekadar penyampaian materi menjadi pengalaman belajar yang bermakna, menyenangkan, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik serta perkembangan zaman.
Ketiga, memastikan kegiatan pelatihan menghasilkan perubahan nyata di sekolah. Setiap peserta diharapkan membawa pulang gagasan yang dapat diterapkan, menyusun langkah perbaikan pembelajaran, dan membagikan praktik baik kepada guru lainnya.
Bupati menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan tidak boleh berhenti pada diskusi, sertifikat, atau dokumentasi, tetapi harus diikuti dengan penerapan, evaluasi, dan pengukuran dampak terhadap kualitas pembelajaran.
“Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman berkomitmen mendorong peningkatan mutu pendidikan. Namun, komitmen itu harus diterjemahkan menjadi kerja nyata oleh seluruh pemangku kepentingan, terutama kepala sekolah dan guru,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padang Pariaman dalam laporannya menyampaikan bahwa School Quality Improvement merupakan bagian dari program percepatan mutu pendidikan daerah yang berorientasi pada peningkatan kompetensi tenaga pendidik dan penguatan kualitas proses pembelajaran.
Rangkaian kegiatan dilaksanakan selama dua hari, 17–18 Oktober 2026. Pada hari pertama, peserta mengikuti materi percepatan mutu pendidikan oleh Prof. Elfindri, pengembangan sekolah berkualitas (Preparing Good School) oleh Kimble Nichols, pembelajaran STEM, perkembangan motorik dan perilaku anak oleh Sabrina Amira secara virtual, serta pengenalan teknologi untuk anak oleh M. Ihsan secara virtual.
Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan materi pengalaman dan implementasi pembelajaran STEM, strategi menciptakan kelas yang menyenangkan, pengembangan keterampilan anak, diskusi kelompok, lokakarya aktif, presentasi, serta refleksi dan penyusunan langkah tindak lanjut.
Melalui rangkaian materi dan praktik tersebut, para guru diharapkan memperoleh perspektif baru mengenai pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, sekaligus memiliki kemampuan untuk mengadaptasi pendekatan pembelajaran inovatif sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing.
Pelaksanaan kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk membangun budaya peningkatan mutu secara berkelanjutan di lingkungan satuan pendidikan. Penguatan kapasitas guru diharapkan tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas proses belajar mengajar, tetapi juga mendorong pemerataan kesempatan belajar dan peningkatan kualitas hasil belajar peserta didik.