Dari Toboh Kampuang Dalam, Putra Petani yang Kini Menahkodai Perikanan Padang Pariaman
PADANG PARIAMAN – Tidak semua perjalanan menuju sebuah jabatan penting dimulai dari ruang-ruang megah. Sebagian justru berawal dari rumah sederhana, dari kampung, dari keluarga biasa, dan dari mimpi yang perlahan dibangun melalui pendidikan dan kerja keras.
Kisah itu ada pada Alfian, S.ST., M.M.
Putra Toboh Kampuang Dalam ini tumbuh sebagai anak petani. Dari lingkungan masyarakat pedesaan itulah ia mengenal arti kerja keras, ketekunan, dan bagaimana kehidupan masyarakat menggantungkan harapan pada hasil bumi dan sumber daya alam.
Puluhan tahun kemudian, anak kampung itu kembali ke tanah kelahirannya dalam sebuah peran yang jauh lebih besar.
Pada 19 Agustus 2026, Alfian resmi dilantik oleh Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis sebagai Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Padang Pariaman.
Kini, tanggung jawab besar berada di pundaknya: membawa sektor perikanan menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat Padang Pariaman.
Dari bangku sekolah di kampung hingga ilmu perikanan
Alfian memulai perjalanan pendidikannya dari tempat yang sangat dekat dengan kehidupan masa kecilnya.
Ia menamatkan pendidikan di SD Toboh Kampuang Dalam pada 1982, kemudian melanjutkan ke SMP Kampuang Dalam dan tamat pada 1986.
Ketertarikannya pada dunia perikanan kemudian membawanya ke SPP SUPM Pariaman. Di sana ia mengambil bidang Ilmu Penangkapan Ikan dan menyelesaikan pendidikan pada 1989.
Pilihan tersebut ternyata menjadi awal dari perjalanan panjangnya di dunia perikanan.
Alfian kemudian melanjutkan pendidikan Diploma III Ilmu Perikanan di Sidoarjo dan tamat pada 2000. Empat tahun kemudian, ia menyelesaikan Diploma IV Ilmu Perikanan di Cikaret, Bogor.
Tidak puas hanya menguasai aspek teknis perikanan, Alfian kemudian memperkuat kemampuan manajerialnya dengan menempuh pendidikan S2 Ilmu Manajemen di AKBP Padang, yang diselesaikan pada 2013.
Pendidikan yang ditempuhnya menjadi bekal untuk memahami perikanan tidak hanya sebagai persoalan produksi, tetapi juga sebagai bagian dari pembangunan ekonomi masyarakat.
Pulang membawa pengalaman, pulang membawa tanggung jawab
Bagi Alfian, jabatan sebagai Kepala Dinas Perikanan bukan sekadar peningkatan jenjang karier.
Ada ikatan emosional yang lebih dalam karena ia kembali dipercaya mengurus sektor yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat di daerah asalnya.
Ia pernah berada pada posisi sebagai anak petani yang melihat langsung bagaimana masyarakat bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Kini, dari posisi sebagai pengambil kebijakan, ia memiliki ruang yang lebih luas untuk mendorong agar masyarakat tidak hanya menjadi pekerja, tetapi mampu mendapatkan nilai tambah dan kesejahteraan yang lebih baik dari potensi yang mereka miliki.
"Potensi perikanan kita besar. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana potensi itu benar-benar memberikan manfaat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," demikian semangat yang ingin dibawa Alfian dalam menjalankan amanah barunya.
Empat fokus untuk menggerakkan sektor perikanan
Alfian menyadari bahwa menahkodai Dinas Perikanan bukan pekerjaan ringan.
Padang Pariaman memiliki wilayah pesisir dengan masyarakat nelayan, sekaligus potensi perikanan budidaya yang dapat terus dikembangkan.
Karena itu, ia menyiapkan sejumlah fokus utama.
Pertama, pengembangan budidaya ikan air tawar di masyarakat.
Budidaya ikan akan terus didorong agar menjadi salah satu sumber ekonomi masyarakat. Pengembangan tidak hanya menyangkut jumlah produksi, tetapi juga bagaimana masyarakat memperoleh akses terhadap benih, teknologi, pendampingan dan pasar.
Kedua, meningkatkan produksi Balai Benih Ikan Lubuk Alung.
Ketersediaan benih berkualitas merupakan salah satu fondasi penting dalam pengembangan budidaya. Karena itu, produksi BBI Lubuk Alung akan terus diperkuat sehingga mampu mendukung kebutuhan masyarakat pembudidaya.
Ketiga, meningkatkan produksi perikanan tangkap.
Untuk sektor nelayan, Alfian memberi perhatian pada peningkatan sarana penangkapan, termasuk dukungan kapal berukuran 3 sampai 5 GT.
Dengan sarana yang lebih memadai, nelayan diharapkan dapat meningkatkan jangkauan dan produktivitas penangkapan sehingga berdampak terhadap pendapatan keluarga nelayan.
Keempat, mengembangkan produk perikanan yang berdaya saing.
Menurutnya, tantangan sektor perikanan tidak berhenti ketika ikan berhasil ditangkap atau dipanen.
Justru setelah itu, tantangan berikutnya dimulai: bagaimana produk tersebut memiliki nilai tambah.
Ikan harus dapat diolah menjadi berbagai produk yang lebih bernilai, memiliki kualitas, kemasan yang menarik, serta mampu menembus pasar yang lebih luas.
Dari keluarga sederhana, lahir dua generasi pengabdian
Di balik perjalanan karier Alfian, terdapat keluarga yang menjadi bagian penting dari kisah hidupnya.
Ia menikah pada 1995. Sang istri juga merupakan ASN yang mengabdi di lingkungan Dinas Pendidikan sebagai pengawas TK.
Pasangan ini dikaruniai dua orang putra.
Menariknya, kedua anak Alfian juga memilih jalan pengabdian sebagai ASN.
Putra pertama mengabdi di Pemerintah Kota Pariaman pada bidang pertanian dan perikanan. Ia merupakan lulusan S1 Universitas Gadjah Mada (UGM) dan melanjutkan pendidikan S2 di Telkom Bandung.
Sementara putra keduanya mengabdi sebagai ASN di Kejaksaan Agung dan kini ditempatkan di Kejaksaan Negeri Lubuk Sikaping. Ia merupakan lulusan S1 Ilmu Hukum Universitas Andalas.
Dari sebuah keluarga sederhana di Toboh Kampuang Dalam, pengabdian seakan menjadi nilai yang terus diwariskan.
Menahkodai dengan pengalaman seorang putra daerah
Kini, perjalanan Alfian memasuki babak baru.
Ia tidak lagi hanya berbicara tentang perikanan dari sisi ilmu yang pernah dipelajarinya. Ia harus menerjemahkan ilmu, pengalaman dan pemahamannya terhadap masyarakat menjadi kebijakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya.
Tugasnya adalah memastikan nelayan bisa melaut dengan sarana yang lebih baik.
Memastikan pembudidaya mendapatkan benih yang berkualitas.
Memastikan produksi meningkat.
Dan yang tidak kalah penting, memastikan hasil perikanan memiliki nilai tambah sehingga kesejahteraan masyarakat ikut meningkat.
Dari Toboh Kampuang Dalam, perjalanan itu bermula.
Dari keluarga petani, ia belajar tentang kehidupan.
Dari pendidikan perikanan, ia menemukan jalan pengabdian.
Dari birokrasi, ia memperoleh pengalaman.
Dan hari ini, sebagai Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Padang Pariaman, Alfian mendapat kesempatan untuk kembali mengabdi di tanah yang membesarkannya.
Bukan sekadar menjadi kepala dinas.
Tetapi menjadi putra daerah yang diberi kepercayaan untuk menahkodai potensi perikanan Padang Pariaman menuju masa depan yang lebih produktif, berdaya saing, dan pada akhirnya bermuara pada kesejahteraan masyarakat.