Berita Daerah

Gotong Royong Hadirkan Harapan Baru, Ibnu Siswa SLB di Padang Pariaman Kini Dapat Mendengar

03-07-2026
66 kali dilihat
Share:
Image Carousel

PADANG PARIAMAN — Harapan yang selama ini nyaris tak pernah dibayangkan akhirnya hadir dalam kehidupan Ibnu (17), seorang siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Mutiara Qalbu, Nagari Kuranji Hilir, Kecamatan Sungai Limau. Setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan pendengaran sejak lahir, Ibnu kini mulai mengenal dunia suara melalui alat bantu dengar yang diserahkan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman bersama Tim Penggerak PKK Kabupaten Padang Pariaman, Jumat (3/7/2026).

Bantuan tersebut bukan berasal dari anggaran pemerintah daerah, melainkan hasil gotong royong, donasi, dan kepedulian berbagai pihak yang diinisiasi oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Padang Pariaman.

Bupati Padang Pariaman, Dr. H. John Kenedy Azis, S.H., M.H., mengatakan bantuan tersebut menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan dan kepedulian sosial mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat, khususnya anak-anak penyandang disabilitas.

"Hari ini kami menyerahkan alat bantu dengar kepada salah satu anak kita, Ibnu, yang berusia 17 tahun. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter spesialis THT, ternyata pendengarannya masih dapat dibantu melalui penggunaan alat bantu dengar. Insya Allah dengan alat ini, Ibnu dapat kembali mendengar dan berkomunikasi dengan masyarakat," ujar Bupati.

Ia menegaskan bahwa seluruh biaya pengadaan alat bantu dengar tersebut berasal dari hasil iuran dan donasi jajaran TP-PKK bersama para dermawan.

"Tidak ada sedikit pun dana APBD yang digunakan. Semuanya merupakan hasil gotong royong, berdonasi, dan iuran bersama. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ketua TP-PKK, dokter spesialis THT, tenaga kesehatan, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi," katanya.

Menurut John Kenedy Azis, gerakan sosial seperti ini diharapkan dapat menggugah kepedulian masyarakat agar semakin banyak anak-anak penyandang disabilitas memperoleh kesempatan hidup yang lebih baik.

"Kami berharap semakin banyak pihak yang tergerak membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Semoga semakin banyak anak-anak yang mendapatkan akses kesehatan dan pendidikan yang lebih baik," ujarnya.

Sementara itu, Ketua TP-PKK Kabupaten Padang Pariaman, Ny. Nita Christanti Azis, menjelaskan bahwa gagasan membantu anak-anak dengan gangguan pendengaran berawal dari pengalaman mendampingi seorang anak bernama Udin.

Sejak lahir, keluarga Udin meyakini bahwa anak tersebut mengalami ketulian total. Namun setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter spesialis THT, diketahui masih terdapat sisa pendengaran yang dapat dioptimalkan melalui alat bantu dengar.

"Ketika pertama kali menggunakan alat bantu dengar, suara pertama yang didengar Udin adalah suara ayam berkokok. Saat itu dia sampai meneteskan air mata karena terharu. Dari pengalaman itulah saya berpikir, mungkin masih banyak anak-anak lain yang mengalami kondisi serupa," ungkap Nita.

Berangkat dari pengalaman tersebut, TP-PKK kemudian menggandeng dokter spesialis THT untuk melakukan pemeriksaan terhadap siswa-siswa di SLB Mutiara Qalbu. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat tiga siswa yang masih memiliki potensi pendengaran dan dapat dibantu melalui penggunaan alat bantu dengar.

"Dari hasil pemeriksaan, kami memprioritaskan Ibnu karena usianya sudah 17 tahun. Sangat disayangkan waktu yang telah terlewat begitu lama. Padahal setelah diperiksa, ternyata pendengarannya masih bisa dibantu," jelasnya.

Nita berharap kisah Ibnu dapat menjadi inspirasi bagi para orang tua agar tidak langsung menyimpulkan bahwa seorang anak mengalami ketulian permanen tanpa pemeriksaan medis yang menyeluruh.

"Banyak orang tua yang sejak awal menerima bahwa anaknya tidak bisa mendengar, lalu tidak pernah memeriksakan kembali. Padahal mungkin masih ada harapan melalui alat bantu dengar. Kami ingin gerakan kecil ini menjadi inspirasi agar daerah lain juga melakukan hal yang sama di sekolah-sekolah luar biasa," katanya.

Ia menambahkan, perjalanan Ibnu belum berhenti pada penggunaan alat bantu dengar. Tahap berikutnya adalah terapi wicara untuk membantu mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi.

"Karena selama ini Ibnu tidak pernah mendengar suara manusia, kemampuan bicaranya juga belum berkembang. Tahap selanjutnya adalah terapi wicara agar ia dapat belajar berbicara dan berinteraksi dengan lingkungannya," ujarnya.

Pengadaan alat bantu dengar bagi Ibnu berhasil diwujudkan hanya dalam waktu satu hingga dua pekan melalui penggalangan donasi yang dilakukan TP-PKK bersama para dermawan.

Penyerahan bantuan yang berlangsung di lingkungan SLB Mutiara Qalbu itu disaksikan jajaran Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, TP-PKK, tenaga kesehatan, guru, orang tua siswa, serta masyarakat setempat.

Momentum tersebut menjadi simbol bahwa kepedulian dan gotong royong masih hidup di tengah masyarakat. Melalui langkah sederhana dan kebersamaan, harapan baru dapat diwujudkan bagi anak-anak penyandang disabilitas, sekaligus membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.