Berita Daerah

Sulam Kapalo Samek Padang Pariaman Berkibar di KBRI Brussels, Buka Jalan Menuju Panggung Internasional

05-10-2026
58 kali dilihat
Share:
Image Carousel

BRUSSELS, BELGIA — Warisan budaya Kabupaten Padang Pariaman kembali mendapat ruang di panggung internasional. Sulaman Kapalo Samek karya perajin Pasia Baru, Padang Pariaman, secara resmi diserahkan kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Brussels untuk menjadi bagian dari koleksi yang dipajang di kantor perwakilan Indonesia di Kerajaan Belgia.

Penyerahan karya tersebut dilakukan Ketua Dekranasda Kabupaten Padang Pariaman, Ny. Nita Christanti Azis, kepada Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Belgia di Kantor KBRI Brussels, Jumat (2/10/2026).

Momentum tersebut turut dihadiri Ketua DWP KBRI Brussels Ny. Ismi Andy Rachmianto, desainer nasional Itang Yunaz, Ketua Harian Dekranasda Kabupaten Padang Pariaman, serta sejumlah undangan lainnya.

Penempatan Sulam Kapalo Samek di KBRI Brussels bukan sekadar bentuk apresiasi terhadap karya perajin daerah. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan wastra Indonesia asal Padang Pariaman kepada masyarakat internasional sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya yang telah diwariskan lintas generasi.

Duta Besar RI untuk Kerajaan Belgia menyampaikan apresiasi atas komitmen Kabupaten Padang Pariaman dalam menjaga, mengembangkan, dan membawa Sulam Kapalo Samek ke tingkat internasional.

Menurutnya, kesempatan tampil di Belgia merupakan peluang emas bagi produk UMKM Padang Pariaman untuk berkembang dan naik kelas, khususnya produk yang lahir dari program pemberdayaan perempuan.

“Ini adalah peluang yang sangat baik untuk memperkenalkan hasil karya masyarakat, terutama UMKM dan produk pemberdayaan perempuan, agar semakin dikenal dan bisa naik kelas,” ujarnya.

Apresiasi serupa disampaikan desainer nasional Itang Yunaz. Ia menilai Sulam Kapalo Samek tidak hanya memiliki nilai estetika dan ekonomi, tetapi juga menyimpan sejarah panjang serta koneksi budaya yang kuat antara Sumatera Barat dan Belgia.

Bagi Itang, membawa Sulam Kapalo Samek ke Belgia bukan sekadar membawa sebuah produk kriya, melainkan membuka kembali hubungan sejarah yang pernah terjalin melalui perkembangan teknik menyulam di Sumatera Barat.

“Ini bukan sekadar membawa sulaman, tetapi ada koneksi sejarah antara Belgia dan sulam-sulam ini. Ke depan, koneksi ini bisa dikembangkan, bahkan menjadi sister city,” kata Itang Yunaz.

Ia juga mengapresiasi kerja keras Ketua Dekranasda Padang Pariaman Ny. Nita Christanti Azis yang dinilainya memiliki semangat kuat dalam membangun ekosistem kerajinan berbasis masyarakat.

Menurut Itang, gagasan membangun kampung mandiri berbasis embroidery menjadi salah satu alasan penting yang memperkuat kolaborasi tersebut. Semangat pemberdayaan masyarakat dan perempuan melalui kerajinan tradisional dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif.

“Semangat Ibu Nita membangun kampung mandiri berbasis embroidery ini sangat luar biasa. Ini yang harus terus didorong agar sulaman tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga memiliki masa depan ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Sulam Kapalo Samek sendiri merupakan salah satu kekayaan kriya khas Padang Pariaman yang dikerjakan dengan ketelitian dan keterampilan tinggi. Keberadaannya menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat sekaligus memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk unggulan ekonomi kreatif.

Bagi Kabupaten Padang Pariaman, keberadaan Sulam Kapalo Samek di KBRI Brussels menjadi langkah strategis untuk memperluas jejaring promosi sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak di tingkat internasional.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan silaturahmi bersama jajaran KBRI Brussels. Suasana semakin istimewa karena bertepatan dengan momentum peringatan Hari Batik, di mana seluruh staf KBRI Brussels mengenakan batik sebagai bentuk kebanggaan terhadap warisan budaya Indonesia.

Dari Padang Pariaman ke Brussels, Sulam Kapalo Samek kini tidak hanya membawa nama perajin dan daerah asalnya. Ia membawa cerita tentang perempuan, budaya, sejarah, pemberdayaan, dan harapan baru agar karya tradisional Indonesia mampu menembus pasar dan panggung dunia. (Kominfo)