Oleh: Rindi Handaning, A.Md.
Operator Layanan Operasional UPTD Laboratorium Lingkungan DLHPKPP Kabupaten Padang Pariaman
Belakangan ini masyarakat semakin mudah mengetahui kondisi kualitas udara. Cukup membuka telepon genggam, kita dapat melihat angka kualitas udara melalui berbagai aplikasi, salah satunya IQAir. Namun, tidak jarang muncul kebingungan.
“Di IQAir kualitas udara terlihat tidak sehat, tetapi data AQMS menunjukkan sedang. Mana yang benar?” Atau sebaliknya: “Mengapa angka kualitas udara di IQAir dan AQMS berbeda, padahal sama-sama mengukur udara?”
Pertanyaan tersebut sangat wajar. Tetapi sebelum menyimpulkan bahwa salah satu sistem keliru, ada hal penting yang perlu kita pahami: angka kualitas udara tidak hanya ditentukan oleh hasil pengukuran konsentrasi polutan, tetapi juga oleh metode dan standar yang digunakan untuk mengubah konsentrasi tersebut menjadi sebuah angka indeks. Dengan kata lain, data polutannya bisa sama, tetapi angka indeksnya bisa berbeda.
Mari kita sederhanakan. AQMS (Air Quality Monitoring System) adalah sistem pemantauan kualitas udara yang mengukur berbagai parameter pencemar udara pada suatu lokasi tertentu secara kontinu.
Sementara IQAir adalah platform teknologi kualitas udara yang menyajikan informasi kualitas udara kepada masyarakat. IQAir dapat menggunakan data dari berbagai sumber pemantauan dan mengolah konsentrasi polutan menjadi nilai AQI (Air Quality Index).
Dalam bahan perbandingan IQAir dan ISPU, dijelaskan bahwa IQAir menggunakan sistem AQI, termasuk acuan US AQI dan CN AQI. Karena standar yang digunakan berbeda, nilai indeks yang dihasilkan juga dapat berbeda pada konsentrasi polutan yang sama.
Jadi, kita tidak sedang membandingkan “alat A melawan alat B”. Yang sebenarnya kita bandingkan adalah hasil pengukuran dan cara masing-masing sistem mengolah serta menyajikan data tersebut.
Bayangkan kita memiliki satu angka konsentrasi PM2,5. Misalnya konsentrasi PM2,5 yang terukur adalah 15 µg/m³. Angka 15 µg/m³ tersebut merupakan konsentrasi polutan, bukan angka indeks. Untuk mengubahnya menjadi indeks kualitas udara, diperlukan tabel atau rumus konversi.
Nah, di sinilah perbedaannya. Bahan perbandingan IQAir dan ISPU menunjukkan bahwa prinsip perhitungannya pada dasarnya sama, yaitu mengubah konsentrasi pencemar menjadi nilai indeks. Namun, acuan atau batas konsentrasi yang digunakan untuk menentukan nilai indeks berbeda. Akibatnya, konsentrasi yang sama dapat menghasilkan angka indeks yang berbeda.
Dalam contoh pada bahan tersebut, konsentrasi PM2,5 sebesar 15 µg/m³ dapat menghasilkan kategori Baik dalam ISPU KLHK, tetapi masuk kategori Sedang dalam indeks IQAir. Jadi, perbedaan angka itu bukan berarti udara di satu tempat berubah secara ajaib dalam hitungan detik. Bisa jadi yang berubah adalah cara angka konsentrasi tersebut diterjemahkan menjadi indeks.
Indonesia memiliki sistem sendiri yang disebut Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). ISPU diatur melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.14/MENLHK/SETJEN/KUM.1/7/2020 tentang Indeks Standar Pencemar Udara.
Dalam sistem tersebut, angka ISPU dibagi menjadi lima kategori:
Nilai ISPU | Kategori |
|---|---|
1–50 | Baik |
51–100 | Sedang |
101–200 | Tidak Sehat |
201–300 | Sangat Tidak Sehat |
≥301 | Berbahaya |
Sementara IQAir menggunakan sistem AQI, dan dalam publikasinya menggunakan antara lain US AQI dan CN AQI. Bahan yang menjadi referensi artikel ini menunjukkan bahwa perbedaan ambang batas dan kategori tersebut dapat menghasilkan angka dan warna yang berbeda.
IQAir sendiri menjelaskan bahwa platformnya menggunakan AQI yang didasarkan pada standar tertentu, dan sejak 2024 menampilkan label US AQI+ untuk menegaskan bahwa perhitungan menggunakan rata-rata konsentrasi per jam untuk memberikan gambaran yang lebih real-time.
Ini yang sering membuat masyarakat semakin bingung. Dalam sistem ISPU Indonesia terdapat lima kategori. Sedangkan sistem AQI Amerika yang digunakan IQAir memiliki enam kategori, yaitu: Baik → Sedang → Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif → Tidak Sehat → Sangat Tidak Sehat → Berbahaya.
Akibatnya, warna yang kita lihat pada aplikasi juga dapat berbeda untuk kondisi konsentrasi polutan yang sama. Bahan perbandingan menunjukkan contoh menarik: dalam ISPU KLHK, kondisi Sedang ditampilkan dengan warna biru, sedangkan pada IQAir kondisi Sedang ditampilkan dengan warna kuning.
Jadi, jangan sampai kita hanya melihat warna lalu langsung menyimpulkan: “Merah berarti AQMS salah.” atau “Kuning berarti IQAir lebih benar.” Belum tentu. Kita harus melihat standar indeks yang digunakan.
Pertanyaan ini sebenarnya perlu diluruskan. Tidak tepat mengatakan IQAir pasti salah dan AQMS pasti benar, atau sebaliknya. Keduanya dapat memberikan informasi yang berguna, tetapi memiliki fungsi, sumber data, metode pengolahan dan tujuan penyajian yang berbeda.
IQAir sangat berguna bagi masyarakat karena menyajikan informasi kualitas udara secara sederhana, cepat dan mudah dipahami. IQAir juga dapat menggabungkan data dari berbagai jenis stasiun pemantauan. Menurut penjelasan IQAir, sumber datanya dapat berasal dari stasiun referensi pemerintah maupun sensor berbiaya rendah, dan data tersebut kemudian diolah di platformnya.
Sementara itu, AQMS pada stasiun pemantauan tertentu menghasilkan data pengukuran kualitas udara di lokasi tersebut. Dengan demikian, pertanyaan yang lebih tepat bukan:
“IQAir atau AQMS yang benar?”
Tetapi:
“Untuk tujuan apa data tersebut digunakan, dan standar indeks apa yang digunakan?”
Untuk pedoman resmi pemerintah daerah dalam menilai dan menyampaikan status kualitas udara berdasarkan sistem nasional Indonesia, maka ISPU sesuai ketentuan nasional adalah acuan yang lebih tepat digunakan. Alasannya sederhana. Kita berada di Indonesia dan berbicara mengenai pengelolaan lingkungan hidup dalam kerangka pemerintahan Indonesia.
Karena itu, apabila Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman menyampaikan kepada masyarakat bahwa: “Kualitas udara berada pada kategori Baik, Sedang, Tidak Sehat, Sangat Tidak Sehat atau Berbahaya,” maka sebaiknya menggunakan ISPU sesuai ketentuan nasional, bukan mengganti kategori resmi tersebut dengan kategori dari sistem negara lain.
PermenLHK P.14/2020 menetapkan tata cara perhitungan dan kategori ISPU di Indonesia. Namun bukan berarti IQAir harus diabaikan. IQAir tetap sangat berguna sebagai informasi pembanding dan informasi publik, terutama untuk melihat kondisi udara secara cepat dan memahami tren kualitas udara.
Salah satu penyebabnya adalah perbedaan ambang batas. Bahan referensi menunjukkan bahwa ambang konsentrasi yang digunakan IQAir untuk konversi indeks dapat lebih rendah dibandingkan ambang pada ISPU KLHK. Karena itu, pada konsentrasi tertentu IQAir dapat memberikan angka indeks dan kategori yang lebih tinggi dibandingkan ISPU.
Selain itu, IQAir saat ini menampilkan US AQI+, yang menggunakan rata-rata per jam sehingga lebih sensitif dalam menggambarkan perubahan kondisi udara terkini. Sedangkan ketentuan ISPU Indonesia memiliki tata cara dan periode pengolahan tertentu. Untuk PM2,5, misalnya, ketentuan ISPU menetapkan penyampaian hasil perhitungan tiap jam dengan basis data pengukuran kontinu selama 24 jam.
Jadi, perbedaan waktu pengolahan data juga dapat ikut menyebabkan angka yang terlihat masyarakat tidak sama.
Ini mungkin bagian yang paling penting untuk dipahami masyarakat.
Misalnya: AQMS/ISPU = 80 sementara IQAir = 120. Jangan langsung menyimpulkan: “AQMS menyembunyikan kondisi udara yang sebenarnya.” Atau: “IQAir membesar-besarkan pencemaran.” Belum tentu demikian.
Angka 80 pada ISPU dan angka 120 pada AQI bukanlah dua angka yang dapat dibandingkan secara langsung seperti membandingkan harga barang di dua toko. Keduanya bisa dihitung dari konsentrasi polutan yang sama tetapi menggunakan sistem indeks yang berbeda. Ibaratnya seperti mengukur jarak menggunakan kilometer dan mil. Angkanya berbeda, tetapi bukan berarti salah satu pengukuran salah.
Dalam konteks kualitas udara, perbedaannya bahkan lebih kompleks karena masing-masing sistem memiliki batas konsentrasi, periode rata-rata, kategori dan interpretasi kesehatan yang berbeda.
Ada beberapa langkah sederhana.
Apakah data berasal dari stasiun pemantauan pemerintah, sensor masyarakat, sensor komersial, atau sumber lainnya?
Apakah yang ditampilkan ISPU Indonesia, US AQI, atau CN AQI? Jangan membandingkan angka tanpa mengetahui indeksnya.
Apakah PM2,5? PM10? Ozon? NO₂? CO? IQAir sendiri menjelaskan bahwa nilai AQI keseluruhan ditentukan oleh polutan dengan nilai indeks tertinggi atau yang disebut sebagai polutan dominan.
Data kualitas udara berubah dari waktu ke waktu. Data per jam dapat menunjukkan kondisi yang berbeda dengan data yang menggunakan periode rata-rata lebih panjang.
Hijau, biru, kuning, merah dan hitam tidak boleh langsung dibandingkan antarplatform. Pastikan dahulu warna tersebut berasal dari sistem indeks yang mana.
Pada akhirnya, tidak perlu memilih salah satu dengan cara berpikir bahwa AQMS benar dan IQAir salah, atau IQAir benar dan AQMS salah. Keduanya dapat memberikan manfaat yang berbeda.
AQMS memberikan data hasil pemantauan kualitas udara pada lokasi tertentu. IQAir membantu menyajikan informasi kualitas udara kepada masyarakat dalam format yang mudah dipahami, dengan menggunakan standar AQI tertentu dan berbagai sumber data.
Perbedaan angka yang muncul tidak selalu menunjukkan perbedaan kondisi udara, tetapi dapat disebabkan oleh perbedaan sumber data, metode pengolahan, periode rata-rata dan standar indeks yang digunakan.
Jika masyarakat bertanya: “Saya harus percaya IQAir atau AQMS?” Jawabannya: Gunakan keduanya secara bijak, tetapi untuk pedoman resmi kualitas udara di Indonesia, gunakan ISPU sesuai standar nasional.
Sementara itu, IQAir dapat digunakan sebagai informasi tambahan dan pembanding, terutama untuk melihat kondisi udara terkini. Yang paling penting adalah jangan membandingkan angka IQAir dan ISPU secara mentah.
Angka berbeda tidak selalu berarti data salah. Bisa jadi standarnya yang berbeda. Dan satu hal lagi yang tidak kalah penting: AQMS maupun IQAir sama-sama bukan gambaran otomatis kualitas udara di seluruh wilayah kabupaten.
Kualitas udara suatu wilayah dipengaruhi oleh sumber emisi, arah dan kecepatan angin, kondisi atmosfer, topografi, cuaca dan faktor lainnya. Karena itu, data dari satu stasiun perlu dipahami sebagai gambaran kondisi udara pada lokasi dan wilayah representatifnya pada waktu tertentu.
Pada akhirnya, tujuan kita bukan mencari “angka siapa yang paling tinggi”, tetapi mendapatkan informasi yang benar agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat untuk melindungi kesehatan dan lingkungan. Udara yang kita hirup adalah milik kita bersama. Karena itu, informasi tentang kualitas udara juga harus dipahami dengan benar.
IQAir dapat menjadi informasi pembanding bagi masyarakat, tetapi untuk penetapan dan komunikasi resmi kualitas udara di Indonesia, pedoman yang digunakan adalah ISPU sesuai ketentuan nasional.