Andri Satria Masri Gigih Berjuang di Tengah Badai Rokok

Andri Satria Masri Gigih Berjuang di Tengah Badai Rokok

 

 

Niat baik seseorang tidak selalu diterima baik oleh orang lain, itulah yang dirasakan oleh Andri Satria Masri yang saat ini menjabat sebagai Inspektur Pembantu I di Inspektorat Kabupaten Padang Pariaman.

Kegigihannya dalam mengkampanyekan berhenti merokok sering dibalas dengan ejekan oleh rekan dan teman sejawat di lingkungan sekitarnya. Sebelum mengkampanyekan untuk berhenti merokok, pria 48 tahun ini juga sempat menikmati hisapan rokok yang dimulai ketika duduk di kelas 2 sekolah menengah atas (SMA).

Ia mengaku bahwa mencoba rokok hanya sebatas ikut teman dan pengaruh lingkungan sekitar. Namun seiring berjalannya waktu ia merasakan dampak buruk yang diterima akibat dari merokok yakni merasakan sakit kepala sebelah yang berlebihan hingga tiga hari lamanya, akibat dari yang dirasakan beliau memutuskan untuk berhenti merokok dari tahun 2010 hingga saat ini.

“Keputusan berhenti merokok saya lakukan sejak tahun 2010, yang mana setelah menganggu kesehatan saya secara berkelanjutan. Awal berhenti merokok memang adanya keinginan untuk kembali lagi mengkonsumsi nikotin yang cukup kuat, namun demi pertimbangan kesehatan saya dan keluarga membuat keinginan semakin kuat untuk berhenti merokok,” ucap Andri saat ditemui di ruang kerjanya di Inspektorat Kabupaten Padang Pariaman.

Setelah ia memutuskan untuk berhenti merokok banyak manfaat yang dapat dirasakan seperti sakit kepala sebelah yang sering menyerang sudah mulai berkurang, badannya terasa lebih segar dan yang paling penting ia dapat berkomunikasi dan bercengkerama dengan keluarga secara bebas tanpa adanya rasa takut dan kecemasan karena anak dan istri juga dapat menghirup nikotin yang menempel dibaju pada saat merokok.

Dari manfaat yang beliau rasakan setelah memutuskan berhenti merokok, maka ia juga ingin mengkampanyekan kepada orang-orang terdekatnya untuk berhenti merokok seperti keluarga, tetangga dan rekan kerja di Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman.

“Banyak kejadian buruk yang dialami akibat dari rokok oleh orang-orang terdekat saya. Seperti tiga orang sahabat yang meninggal karena menghisap rokok dan ini lah yang membuat saya semakin menguatkan niat untuk mengkampanyekan agar orang-orang disekitar berhenti menghisap rokok,” ujarnya.

Lulusan Magister Ekonomi Universitas Indonesia ini juga sering kali mendapatkan cemoohan bahkan sempat menjadi bulyan oleh orang sekitar terkait ajakan larangan merokok yang dia lakukan di tempat bekerja. Himbauan bahaya rokok yang juga akan merusak kesehatan baik bagi perokok aktif maupun perokok pasif serta dampak ekonomi tidak mengkunsumsi rokok sering kali menjadi olok-olok kepadanya.

“Kudo indak marokok batuak e nyo. Ungku wak marokok lai panjang juo umuah e nyo. Kalimat seperti sering saya jumpai dan bahkan sempat menimbulkan perdebatan yang kasar serta protes keras hingga saya dituduh melakukan konspirasi dengan penjual obat,” ujarnya sembari mengenang kejadian dengan gelak tawa.

Namun dibalik bulyan dan cemoohan yang dia dapat, Andri Satria Masri yang pernah menjabat sebagai kepala bagian Humas dan Protokol Padang Pariaman ini juga berhasil mengajak sahabatnya seperti Kepala Dinas Perikanan Padang Pariaman yakni Drs. Zainal dan Kabid Data Diskominfo Drs. Suhaili untuk berhenti merokok dan melaksanakan pola hidup sehat.

“ASN merupakan role model bagi masyarakat sehingga ia sangat menyayangkan ASN yang masih merokok karena Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman telah membuat Peraturan Daerah Nomor 4 tahun 2017 tentang kawasan tanpa rokok. Saya berharap agar seharusnya seorang ASN taat terhadap Perda tersebut,” tutupnya mengakhiri perbincangan.

Sepertinya Andri Satria Masri sudah selayaknya diberikan gelar Duta Anti Rokok ASN Padang Pariaman. (M_H)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: