Nagari Kurai Taji Timur Lestarikan Kebudayaan Melalui Forum Anak Nagari

Kepala DSP3A Hendra Aswara bersama pemain gandang tasa anak nagari kurai taji timur di kantor wali nagari setempat, Senin (20/5).

Kesenian tradisional anak nagari kurai taji timur mendapat kunjungan dari Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Hendra Aswara. Pada kesempatan tersbeut ditampilkan gandang tasa dan adat pasambahan ninik mamak oleh anak-anak nagari berusia 8-15 tahun

“Kita aspreasi Wali Nagari Kurai Taji Timur yang berhasil membina forum anak nagari untuk berkreatifitas dibidang kesenian tradisional” ujar Hendra Aswara didampingi Kabid Perlindungan Anak Arosi Febri Yenti di Kantor Wali Nagari setempat, Senin (20/5).
Gandang tasa, kata Hendra, kesenian yang perlu dilestarikan dan dipelajari oleh generasi milenial. Saat ini kebanyakan remaja sudah terpengaruh dengan keberadaaan internet yang cenderung negatif. Begitu juga dengan salam pasambahan yaitu rangkaian kata yang disampaikan oleh ninik mamak dalam hajatan seperti pertunangan, menjemput marapulai, pengangkatan datuk dan lainnya.
“Saya kira, sedikit sekali anak nagari mau belajar seni berbahasa pasambahan ini. Namun sekarang kita tak khawatir lagi, karena di nagari kutai taji timur sudah melahirkan bibit untuk meneruskan adat kita” ujar Mantan kadis perizinan itu.
Forum anak nagari, tambah Hendra, sebagai wadah untuk bersilaturahmi, bermain, berkreasi menciptakan hal positif menyalurkan minat dan bakat serta mempertahankan adat budaya minangkabau.
Kepala DSP3A Hendra Aswara mendengarkan seni pasambahan yang diperagakan oleh anak nagari kurai taji timur di kantor wali nagari setempat, Senin (20/5).
Sementara Wali Nagari kurai Taji Timur Jarizaldi mengaku senang atas perhatian jajaran DSP3A yang fokus terhadap kegiatan forum anak nagari.
Kesenian gandang tasa dan seni pasambahan merupakan kerjasama antar korong yang ada dinagarinya. Anak-anak dilatih setiap malamnya dilaga-laga dengan pelatih yang juga wali korongnya.
“Kita latih murid SD hingga SMP yang memiliki bakat seni. Tujuannya agar anak-anak ini mengenali adat minang yang sudah mulai dilupakan. Alhamdulillah sudah banyak kemajuan dan kami terus berlatih” ujar Jarizaldi.
Ia berhasrat akan mengadakan kompetisi gandang tasa tingkat Sumatera Barat yang digelar di Padangpariaman.
“Semoga terwujud, karena kreatifitas anak nagari telah mendapat tempat di hati pemerintah” ujarnya mengakhiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: